GEREJA MASEHI INJILI DI TIMOR
(GBM GPI dan Anggota PGI)
MAJELIS SINODE
Jln. S. K. Lerik Kota Baru Telp. (0380) 8438423, Fax. 831182,
E–mail: Infokom.gmit@yahoo.com, sinodegmitkupang@gmail.com, Website: www.sinodegmit.or.id
Nomor : 1638/GMIT/I/D/Des/2024
Kupang, 27 Desember 2024 Lampiran : 1 (Satu) Berkas
Hal : Pengantar
Kepada : Yang Terhormat,
1. MKH se-GMIT 2. MJH se-GMIT
Masing-masing
di -
Tempat
Lakukan Keadilan, Cintai Kesetiaan dan Hidup Rendah Hati di Hadapan Allah (Mikha 6:8)
Salam damai dalam Kasih Yesus Kristus,
Semoga kami menjumpai Bapak/Ibu dalam keadaan damai sejahtera. Kita bersyukur karena kasih dan penyertaan Tuhan Yesus Sang Pemilik Pelayanan, kita masih diberi kesempatan untuk melayani, dan satu tahun pelayanan telah kita lewati. Kini kita akan memasuki tahun pelayanan yang baru yakni tahun 2025. Oleh karena itu, dalam rangka menjawab kebutuhan pelayanan jemaat-jemaat GMIT akan bahan bacaan yang sistematis dan seturut dengan arah pelayanan GMIT, maka kami mengirimkan Daftar Bacaan Alkitab GMIT Triwulan 1, bulan Januari - Maret 2025. Daftar bacaan ini merupakan pedoman yang dapat dipakai dalam pelayanan jemaat. Kami mohon agar Bapak/Ibu berkenan meneruskannya kepada segenap Presbiter GMIT, agar dapat digunakan dalam pelayanan dimaksud.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.
Susunan Majelis Sinode GMIT Periode 2024 – 2027 : Ketua: Pdt. Semuel B. Pandie, S.Th, Wakil Ketua: Pdt.Saneb Y. Ena Blegur, S.Th, Sekretaris: Pdt. Lay Abdi Karya Wenyi, M.Si, Wakil Sekretaris: Pdt. Zimrat M. S. Karmany, M.Th; Bendahara: Pnt. Yefta Sanam SE,MM, Anggota - Anggota : Pnt. Ir. Emelia J. Nomleni; Pnt. Dr. Fredrik A. Kande; Pnt. Dorce W. Bolla, SH; Pnt. Dr. Rolland Fanggidae, S.Si Teol, MM
|
Lampiran :
Daftar Bacaan Alkitab GMIT
Triwulan I Tahun 2025
(Januari–Maret 2025)
Saudara-saudari seluruh anggota GMIT yang dikasihi Tuhan! Daftar Bacaan Alkitab GMIT ini disusun untuk memandu semua penyelenggaraan ibadah minggu, hari raya gerejawi dan hari raya khusus di Gereja Masehi Injili di Timor selama bulan Januari- Maret tahun pelayanan 2025. Sehubungan dengan terbitnya Daftar Bacaan Alkitab GMIT triwulan I Tahun 2025 ini, maka kami mohon perhatian saudara-saudari terhadap hal-hal berikut:
Dalam Daftar Bacaan ini, tema periode pelayanan tahun 2024-2027 dan Sub Tema tahun 2025, dijabarkan dalam tema bulanan serta tema mingguan. Dengan demikian, semua bentuk pelayanan, termasuk ibadah, di jemaat-jemaat GMIT dapat berjalan bersama-sama mencapai tujuan sub tema, yang merupakan turunan dari tema periodik kita yaitu Lakukan Keadilan, Cintai kesetiaan dan Hidup Rendah Hati di hadapan Allah (Mikha 6:8). Adapun sub tema pelayanan tahun 2025 yaitu “Menghidupi Ibadah yang Berkeadilan, Penuh Kesetiaan, Saling Mengasihi & Merangkul Perbedaan” (Bdk. I Timotius 6:11)
Daftar bacaan ini berisi masa raya, nas bacaan, serta tema dan pokok-pokok khotbah stola dan simbol liturgi. Masa raya menunjukkan pada ibadah hari raya gerejawi, hari raya khusus di GMIT, dan ibadah minggu. Nas bacaan ada dua, yaitu mazmur dan bahan khotbah.
Daftar bacaan ini dipedomani untuk kebaktian minggu, dan jika ada pelayanan khusus di jemaat, pada hari Minggu, maka dapat disesuaikan.
Akhirnya, kami mengucapkan selamat menata dan melayani demi pertumbuhan iman anggota jemaat se-GMIT.
Bulan Januari 2025
Tema: Menjalani Hidup dalam Kesetiaan Beribadah Bersama Tuhan dan Sesama
Ibadah | Tema Dan Pokok-Pokok Khotbah | |
Tanggal : Rabu, 1 Januari | Berpengharapan Menghidupi Waktu Tuhan | |
• • • | Hari ini kita sedang berdiri di pintu gerbang tahun 2025. Kita sementara memandang jalan ke masa depan. Apakah yang akan terjadi dalam perjalanan ini? Hidup ataukah mati? Gagal ataukah berhasil? Pertanyaan-pertanyaan ini, tentu membayangi pikiran kita. Marilah kita berseru bersama-sama ataupun sendiri, dalam keluarga ataupun bersama jemaat dengan berkata: “Tuhan pimpinlah kami memasuki perjalanan di tahun 2025 ini. Sebab kami akan berhasil, jika Engkau menyertai, memelihara dan memimpin kami sepanjang perjalanan menuju masa depan”. Wahyu 21:1-8, menggambarkan suasana kehidupan baru yang dipenuhi damai sejahtera. Kehidupan baru itu akan diperuntukkan bagi mereka yang berhasil menghadapi pertarungan iman selama menjalani kehidupannya. Dalam kehidupan baru, Tuhan menghapuskan ratap tangis sebab segala sesuatu yang lama telah dibuat-Nya berlalu. Dia yang duduk di atas takhta kemuliaan berfirman, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru”. Hal ini menunjukkan bahwa ketika Allah melakukan pembaruan, maka segala kekuatan yang akan menyengsarakan ciptaan-Nya akan dihapuskan, karena Tuhanlah yang akan memerintah sebagai raja atas umat-Nya. Sekarang ini kita sementara berada pada titik start di tahun 2025, untuk selanjutnya menghidupi tahun 2025 dengan berbagai situasi dan keadaan yang belum kita rasakan. Untuk itulah kitab Wahyu mengajak kita untuk terus menghayati kehidupan yang berpengharapan, karena Allah akan terus mendatangkan kebaikan bagi kita dalam menghidupi waktu yang Tuhan telah ciptakan. Karena itu, janganlah kuatir saat menatap hari depan dengan berbagai tantangannya; karena segala sesuatu yang baru telah diciptakan bagi setiap orang yang terus mempercayakan hidupnya kepada Tuhan. Hal ini telah menjadi penekanan kitab Wahyu bahwa, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru”. | |
Masa Raya : Tahun Baru | ||
Nas Bacaan 1. Mazmur : 67:1-8 | ||
2. Khotbah : Wahyu 21:1-8 | ||
Stola : Putih (Palungan dan pelangi) | ||
Tanggal : Minggu, 5 Januari | Menyendiri dengan Tuhan, Menikmati Hadirat-Nya tanpa Sekat | |
Masa Raya : Minggu Kedua Setelah Natal |
Nas Bacaan
|
| |
Stola : Putih (Palungan dan pelangi) | ||
| ||
Tanggal | : Minggu, 12 Januari | Menjadi Berkenan Kepada Allah • Setiap tanggal 6 Januari gereja-gereja arus utama di Barat dan Timur merayakan Epifani. Epifani berasal dari bahasa Yunani Koine yang berarti manifestasi atau penampakan jelas. Kadang-kadang Epifania disebut juga Teofani. Teofani berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti penampakan Tuhan. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah manifestasi Yesus ke dalam dunia melalui kelahirannya. Epifani ditandai dengan pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis sebagai awal karya pelayanan Yesus di dalam dunia. Sesuai tradisi gereja, minggu-minggu setelah tanggal 6 Januari disebut minggu-minggu |
Masa Raya : Minggu Pertama Epifani/Minggu Baptisan Yesus
| ||
Nas Bacaan 1. M a z m u r : 2 9 | ||
2. K o t b a h : Markus 1:9-13
| Epifani yang berlangsung selama 6 minggu.
Allah menyatakan bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang dikasihi-Nya. Ini menunjukkan bahwa dalam Pembaptisan Yesus, hakikat-Nya sebagai manusia sejati dan Allah sejati dinyatakan dengan jelas. Allah juga menyatakan bahwa hakikat Yesus yang demikian berkenan kepada-Nya. Apa yang Allah nyatakan ini kemudian Yesus buktikan di padang gurun. Dalam hakikat-Nya sebagai manusia, Yesus mengalami pencobaan seperti manusia lain pada umumnya. Biar pun demikian, Yesus tidak tergoda untuk jatuh ke dalam dosa. Ketidakberdosaan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang sejati.
| |
Stola: Hijau, Bintang bersegi lima (putih) di dalam lingkaran (kuning) | ||
Tanggal : Minggu, 19 Januari | Bernyanyilah dengan Segenap Hati untuk Tuhan
| |
Masa Raya : Minggu kedua Epifani
| ||
Nas Bacaan
| ||
| ||
Stola: Hijau, Bintang bersegi lima (putih) di dalam lingkaran (kuning) | ||
memuliakan-Nya. Irama kehidupan yang benar akan terpancar melalui kata-kata, tindakan, dan seluruh sikap hidup kita. Dengan demikian, pujian yang kita persembahkan kepada Tuhan tidak hanya terdengar indah, tetapi juga tercermin dalam kehidupan nyata kita.
| ||
Tanggal : Minggu, 26 Januari 2025 | • •
• | Mendengar dan Menyelidiki Firman Allah Salah satu ciri tradisi beribadah gereja reformasi adalah pemberitaan Firman Tuhan menjadi sentral dalam sebuah ibadah. Kita melihat desain tata ruang ibadah kita, mimbar diletakkan di tengah. Hal ini tidak hanya sekedar saja didesain tetapi menunjukkan fokus ibadah adalah pada saat Allah berfirman dan umat mendengar Firman dengan penuh sukacita dan terbuka pada Firman-Nya. Orang-orang Yahudi di Tesalonika tidak mau menanggapi sama sekali firman yang diberitakan sedangkan orang Yahudi Berea menerima firman dengan kerelaan hati sambil menyelidiki kebenarannya di dalam Kitab Suci. Inilah sikap yang bisa membuat kemajuan di dalam iman. Orang Tesalonika menolak firman Tuhan sebelum memahami, sedangkan orang-orang di Berea, memberi diri untuk menerima Firman Tuhan, bahkan dengan kristis terus mempelajari. Kesediaan untuk menyelidiki kebenaran firman Tuhan nyata dalam kalimat ”... Setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci ...” Kata yang diterjemahkan ”menyelidiki” berasal dari kata Yunani anakrino yang berarti mengayak, menyelidiki dengan sangat teliti dan cermat. Maksud dari menyelidiki setidaknya ada beberapa hal: Tekun belajar firman Tuhan. Hal ini membuat ada kemajuan rohani dalam kehidupan mereka. Minat mereka akan firman Tuhan sangat besar, setiap hari mereka menyelidiki firman dengan tidak bosanbosannya. Bagi mereka ini lebih penting dan lebih utama. Ingin mengerti lebih banyak, mereka tidak merasa cukup dengan apa yang sudah mereka tahu. Harus ada perubahan setiap hari agar semakin baik. Menerima dengan rela hati, meskipun yang mereka dengar mungkin bertentangan dengan apa yang mereka yakini selama ini. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang ada di Berea merupakan teladan yang sangat baik bagi kita semua sebagai pendengar dan pelaku firman. Sikap yang seharusnya kita dimiliki adalah menjadi jemaat yang dewasa, yang ketika mendengar Firman Tuhan ada keterbukaan hati dan mau dididik oleh kebenaran Firman Tuhan. Ada kerinduan untuk mendengarkan sesuatu dari Tuhan. Datang dengan kerendahan hati. Datang dengan keterbukaan untuk diisi firman Tuhan. Sediakan juga waktu selalu untuk belajar tentang kebenaran Firman Tuhan, dalam berbagai kesempatan. |
Masa Raya :Minggu Ketiga Epifani | ||
Nas Bacaan 1. Mazmur : 119:1-12 | ||
2. Kotbah : Kisah Para Rasul 17:10-15
| ||
Stola: Hijau, Bintang bersegi lima (putih) di dalam lingkaran (kuning) | ||
Bulan Februari
Tema: Memaknai Ibadah Sebagai Cara Allah Menyapa dan Umat Merespon
Tanggal : Minggu, 2 Februari | Mendoakan Kehidupan, Menghidupi Doa | |
• •
• | Doa adalah napas hidup setiap orang percaya. Apa pun yang orang Kristen doakan, termasuk doa saat mengalami pergumulan berat dan dukacita, mesti berhubungan dengan hidup. Selain itu orang Kristen juga mesti menjalani hidup sesuai kata-kata yang diucapkan dalam doa kepada Tuhan. Dengan kata lain, doa mesti dihidupi dalam semua aktivitas orang Kristen. Ada kesejajaran antara Doa Bapa Kami dengan Doa Amidah atau Shemoney dalam doa-doa Yahudi. Namun berbeda dengan doa-doa Yahudi yang meyakini bahwa Allah Maha Kudus sehingga sulit didekati oleh manusia berdosa, Yesus mengajarkan relasi yang akrab seperti Bapa dan anak dalam doa. Allah adalah Bapa yang murah hati, penuh kasih dan sangat memperhatikan kebutuhan anak-anak-Nya. Karena itu doa mesti dilandasi rasa cinta, bukan rasa takut. Ada dua perumpamaan dalam nas ini. Pertama, teman yang mendesak tanpa rasa segan dan malu sebab relasi yang akrab (ay. 5-8). Kedua, undangan untuk meminta karena permintaan akan dijawab oleh Tuhan (ay. 9-13). Doa yang benar tidak berisi permintaan akan keburukan dan kecelakaan melainkan hidup yang penuh berkat dan anugerah. Doa yang baik itu tampak melalui sikap tulus untuk mendoakan kehidupan. Selain itu doa bukan sekedar teks yang dihafal atau dibacakan. Doa juga bukan sekedar fasih berbicara kepada Tuhan. Doa mesti diucapkan dengan penuh keyakinan. Dalam doa kita menjalin relasi yang akrab dengan Tuhan. Hal ini berhubungan dengan bagaimana kita menghidupi doa.
| |
Masa Raya :Minggu Keempat Epifani | ||
Nas Bacaan 1. Mazmur : 86 | ||
2. Khotbah : Lukas 11:1-13
| ||
Stola: Hijau, Bintang bersegi lima (putih) di dalam lingkaran (kuning) | ||
Tanggal : Minggu , 9 Februari | Mengaku Percaya dan Mengenal yang Diimani | |
• | Setiap minggu kita mengucapkan Pengakuan Iman. Ada empat Pengakuan Iman yang GMIT terima yaitu Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, Pengakuan Iman Athanasius dan Pengakuan Iman GMIT. Tiga Pengakuan Iman yang pertama adalah warisan dari gereja mula-mula dan bersifat ekumenis. Sedangkan Pengakuan Iman GMIT lahir sebagai hasil pergumulan GMIT dengan Allah Tritunggal, gereja dan konteksnya. Intisari dari empat Pengakuan Iman ini adalah GMIT mengaku percaya kepada Allah Tritunggal. | |
Masa Raya :Minggu Kelima Epifani | ||
Nas bacaan: 1. M a z m u r : 2 7 2 . Khotbah : Matius 16:13-20
|
Stola: Hijau, Bintang bersegi lima (putih) di dalam lingkaran (kuning) | • | Pertanyaan Yesus kepada murid-murid-Nya bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh murid-murid mengenal diri-Nya. Murid-murid pun memberikan jawaban yang mereka ketahui dari orang lain. Karena itu Yesus menanyakan pendapat mereka. Di sinilah Petrus memberikan pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias. Ini menunjukkan bahwa Yesus ingin agar setiap murid mengenal dan mengakui Dia berdasarkan hubungan akrab yang dibangun dengan-Nya, bukan hanya berdasarkan apa yang dikatakan orang lain. | |
• | Percaya merupakan sebuah tindakan dari hati yang dilandasi iman. Percaya mesti diucapkan dalam pengakuan. Percaya mesti didasarkan pada pengenalan pribadi karena hubungan yang akrab dengan Allah Tritunggal. Tetapi tidak berhenti di situ. Mesti ada penghayatan dan kesediaan untuk dikuasai oleh Allah Tritunggal.
| ||
Tanggal : Minggu, 16 Februari |
| Persembahan: Kualitas atau Kuantitas?
| |
Masa Raya :Minggu Keenam Epifani | |||
Nas Bacaan
1 Tawarikh 29:13-17 | |||
Stola: Hijau, Bintang bersegi lima (putih) di dalam lingkaran (kuning) | |||
Tanggal : Minggu, 23 Februari |
• • • | Kita diutus Kristus untuk Memberitakan Kerajaan Sorga Dibagian awal tata ibadah ada introitus, dimana Tuhan memanggil umat-Nya, dalam pemberitaan firman, Tuhan mengajar umat-Nya. Di akhir ibadah ini, Tuhan mengutus umat-Nya untuk kembali ke dalam kehidupan mereka dengan satu amanat dan komitmen untuk menyampaikan kabar baik yang sudah Tuhan perdengarkan kepada mereka. Amanat pengutusan diikuti janji berkat Allah yang menyertai. Pada Matius 10:5-15, Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Kerajaan Sorga, memberi mereka instruksi tentang pesan yang harus disampaikan dan sikap yang harus diambil. Frasa Basileia tōn Ouranōn atau "Kerajaan Sorga" menonjol karena unik dalam Injil Matius. Istilah ini menggambarkan kedaulatan Allah yang aktif bekerja melalui Yesus, bukan sekadar tempat geografis. Tugas utama murid adalah menyampaikan bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat (ayat 7). Selain itu, mereka diberi kuasa untuk menunjukkan tanda-tanda Kerajaan Sorga, seperti menyembuhkan orang sakityang bukan saja fisik, tapi secara holistik (yun: therapeuete), membangkitkan orang mati (nekrous egeirete), dan mengusir setan (daimonia ekballetē). Tanda-tanda ini menegaskan bahwa Kerajaan Allah membawa pemulihan holistik, baik secara fisik, spiritual, maupun moral. Yesus juga menekankan pelayanan dengan sikap murah hati dan tanpa pamrih, sebagaimana ditegaskan dalam frasa Dōrean elabete, dōrean dote: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (ayat 8). Para murid diajar untuk mengandalkan Allah, bukan harta benda, dalam pelayanannya. Pemberitaan Kerajaan Sorga adalah panggilan yang melibatkan semua murid Yesus. Tugas pengutusan melibatkan penyerahan diri penuh kepada Allah. Murid-murid tidak hanya membawa berita keselamatan, tetapi juga mempraktikkan kasih karunia, menunjukkan otoritas Allah, dan hidup dalam ketergantungan total pada penyediaan-Nya. Ini menjadi pola misi pelayanan Kristen sepanjang zaman. | |
Masa Raya : Minggu Ketujuh Epifania | |||
Nas Bacaan 1. Mazmur : 71: 17-24 | |||
2. Khotbah : Matius 10: 5-15 | |||
Stola: Hijau, Bintang bersegi lima (putih) di dalam lingkaran (kuning)
| |||
Bulan Maret (Masa Raya Minggu-Minggu Sengsara Yesus)
Tema: Menghayati Sengasara Yesus untuk Merengkuh Kerapuhan Hidup
Tanggal : Minggu, 2 Maret | • • •
|
Kasih Bapa Dalam Pengorbanan Anak Tunggal Allah Allah Bapa sebagai gambaran pemilik kebun anggur adalah Allah yang penuh dengan cinta kasih yang besar. Hal ini dimulai ketika Dia, bukan hanya sekedar pemilik biasa tapi pemilik yang sejak awal merintis semuanya mulai dari membangun tempat penggirikan/tempat pemerasan, mendirikan menara lalu mempercayakan kebun milik-Nya kepada penggarap (buruh kerja dipilih untuk menjadi pengelolah.) Bukti kasih Allah yg mulia sejak awal mempercayakan semuanya pada penggarap. Namun Allah diabaikan sebagai pemilik. Para penggarap berusaha menguasai apa yang bukan miliknya. Keserakahan menguasai hati manusia hingga ia menghalalkan kekerasan untuk menguasai segalagalanya. Namun Allah Bapa dengan cinta kasih yang besar tetap mengutus anak-Nya meskipun Ia tahu ada resiko penolakan, seperti yang dialami utusan-utusan sebelumnya. Berharap diterima tetap dalam kesadaran akan resiko penolakan yang kejam mungkin akan terulang kembali, Allah Bapa rela mengutus Anak satu-satu-Nya. Ia rela Anak-Nya pergi kepada mereka yang bengis hatinya, begitu pula Anak-Nya rela pergi sebagai yang diutus ke tempat penolakan yang sama. Sekalipun dikhianati, ditolak, namun Allah tetap berinisiatif untuk mendatangkan kebaikan bagi manusia yang berdosa. Hati Allah yang terluka tidak menghilangkan cinta Kasih-Nya pada manusia. Belajar melihat betapa besar kerelaan Allah Bapa dan Anak seharusnya membuat kita menerima Yesus Kristus dan percaya sepenuh hati kepada-Nya. Pengorbanan Allah Bapa melalui Anak tunggal-Nya mestinya membuat kita belajar untuk bertanggung jawab, dan tidak lagi egois dan serakah, belajar untuk melihat bagaimana kita mesti menghadirkan keadilan, damai sejahtera bagi orang lain. Ini bukan hal yang mudah karena mungkin kita akan ditolak. Namun apapun yang dilakukan karena cinta kasih pada akhirnya mendatangkan kebaikan bagi yang menerima. Kita juga belajar bahwa penolakan terhadap Yesus sering kali lahir dari kebutaan rohani, kekerasan hati dan kesombongan. Peringatan ini menegaskan bahwa siapa pun yang menolak Yesus akan kehilangan bagian dalam Kerajaan Allah. Allah Bapa sudah membuktikan kasihnya dalam diri Yesus Kristus, maka sudah waktu kita membuktikan cinta kasih kita kepada Allah melalui kehidupaan yang benar. |
Masa Raya : Minggu Sengsara I | ||
Nas bacaan: 1. M a z m u r : 36 2 . Kotbah : Matius 21:33-46 | ||
Stola : Ungu Tua, Ikan (Ichtus) |
Tanggal : Minggu, 9 Maret | • • • |
Yesus Menderita Akibat Dosaku Ciri pertumbuhan iman yang benar adalah selalu ada kesadaran diri akan keberdosaan kita, selalu mengoreksi diri dan mau bertobat. Sebab dosa yang kita lalu memiliki akibat fatal bagi hidup kita. Kisah manusia jatuh ke dalam dosa di taman Eden, membuat Tuhan sampai mengusir Adam dan Hawa dari taman Eden. Dosa membuat manusia terpisah dari Allah. Dosa berakibat kerusakan fatal, besar, dan berkelanjutan bagi kehidupan manusia. Ketika manusia jatuh dalam dosa, ia bagaikan domba yang sesat. Manusia cenderung menjauh dari jalan Allah, hidup dalam ketidaktaatan, dan kehilangan arah dalam hidup. Dosa dipandang sebagai hal yang biasa. John Owen menyatakan barangsiapa yang memiliki pemikiran ringan, enteng tentang dosa, tidak akan pernah memiliki pikiran-pikiran besar, agung tentang Allah. Akibat keberberdosaan dan kecenderungan sering menganggap remeh dosa, Yesus mengorbankan diriNya. Yesuslah yang harus menanggung penderitaan akibat dosa. Dia memikul dosa kita di kayu salib agar kita dapat dipulihkan dan memiliki hubungan kembali dengan Allah (1 Petrus 2:24). Yesus tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga menjaga dan membimbing kita ke dalam kehidupan yang kekal. Ia mau kita hidup sebagai orang-orang yang siap menderita, termasuk siap meninggalkan dosa. Kristus sudah menderita akibat dosa kita, maka kita mesti meneladani-Nya untuk siap menderita demi meninggalkan dosa, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita serta hidup dalam kebenaran. |
Masa Raya : Minggu Sengsara II | ||
Nas Bacaan
| ||
Stola : Ungu Tua, Ikan (Ichtus) | ||
Tanggal : Minggu, 16 Maret |
• • | Memandang Dia yang Tertikam Nubuat memiliki arti tentang sesuatu yang menyatakan peristiwa yang akan terjadi di masa depan melalui perantaraan seorang atau seorang nabi. Salah satu Nubuat Perjanjian Lama tentang penderitaan seorang yang tertikam, yang nyata dalam karya Yesus Kristus. Isi perikop ini merupakan nubuat yang menggambarkan waktu ketika umat Allah akan "melihat kepada Dia yang telah mereka tikam" dan menangisinya dengan penuh duka. Nubuat ini mengacu pada pengenalan mendalam akan dosa manusia yang menyebabkan penderitaan Sang Mesias, yang tergenapi dalam Yesus Kristus. Di salib, Yesus menjadi Pribadi yang tertikam, memberikan nyawa-Nya sebagai pengorbanan untuk dosa-dosa manusia. Ayat 10 menekankan bahwa pengenalan ini dimungkinkan oleh pekerjaan Roh Allah: “Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan kepada keluarga |
Masa Raya : Minggu Sengsara III | ||
Nas Bacaan
| ||
|
Stola : Ungu Tua, Ikan (Ichtus) | Daud dan penduduk Yerusalem.” Hanya melalui karya Roh Kudus, manusia dapat menyadari kedalaman dosanya, mengenali kasih Allah yang sempurna di dalam Kristus, dan bertobat dengan sungguh-sungguh. Tangisan dalam teks ini bukan sekadar duka, tetapi ekspresi pertobatan sejati. Katakata ini mengingatkan kita bahwa sengsara Kristus bukan hanya tragedi historis, tetapi peristiwa yang terus menantang hati manusia untuk berbalik kepada Allah. Melihat salib adalah merenungkan kasih Allah yang rela menanggung penghinaan dan penderitaan demi keselamatan kita. Ayat 11-14 menyoroti duka yang bersifat pribadi sekaligus kolektif. Setiap individu, dari semua lapisan masyarakat, diundang untuk secara pribadi menghadapi realitas dosanya. Namun, duka ini juga membawa pemulihan bersama sebagai umat Allah. | |
• | Refleksi ini mengundang kita untuk merenungkan kasih karunia Allah. Kristus yang tertikam mengajarkan bahwa hanya melalui pengakuan dosa dan penyerahan diri kepada karya-Nya di salib, kita dapat menerima anugerah pengampunan dan pembaruan hidup. Tangisan duka atas dosa membawa pengharapan, karena melalui salib Yesus, Allah telah membuka jalan menuju pemulihan dan keselamatan kekal.
| |
Tanggal :Minggu, 23 Maret | Teladan Merendahkan Diri dan Melayani | |
| • • • | Saat penangkapan dan penyaliban Yesus sudah semakin dekat. Itulah saat-saat terakhir bagi Yesus bersama para murid-Nya. Pada saat itulah Yesus mengajar tentang kasih dan memberi diri untuk melayani. Pengajaran yang diberikan bukan dengan kata-kata, tetapi melalui teladan. Yesus Sang guru memakai perlengkapan lalu membasuh kaki murid-murid-Nya. Biasanya hal ini dilakukan oleh seorang pelayan. Para murid sendiri pada waktu itu sementara sibuk memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka (bdk. Luk. 22:24). Dengan isi perdebatan semacam itu, mana mungkin ada yang mau merendahkan diri dengan membasuh kaki yang lain? Namun saat dibasuh Yesus, murid-murid diam saja. Berbeda dengan Petrus, yang tidak bisa menerima bila Sang Guru membasuh kakinya. Namun usai mendengar penjelasan Yesus, Petrus malah meminta agar seluruh tubuhnya dibasuh (6-9). Yesus mengambil peranan yang sangat rendah untuk melayani murid-muridNya. Karena itu murid-muridpun seharusnya melayani dan menempatkan kepentingan orang lain di atas prestise mereka sendiri (bdk. Flp.2:1-11). Bila dunia bertanya,"Berapa banyak pelayanmu?" maka murid-murid Yesus seharusnya bertanya "Berapa orang yang kulayani?" Sebab itu, murid-murid Yesus seharusnya tidak berpikir bahwa melayani merupakan suatu tindakan yang bernilai rendah, karena Guru merekapun telah merendahkan diri untuk melayani mereka (15). Dunia bahkan murid-murid Tuhan masa kini banyak dipenuhi semangat kompetisi, sehingga yang terjadi adalah saling mengritik dan ingin memperlihatkan siapa yang terbaik dan terbesar. Akibatnya, pengetahuan bertambah, tetapi kasih berkurang. Dan dalam situasi seperti itu, melayani akan dianggap sebagai sesuatu yang merendahkan harga diri. Namun Yesus berkata, "Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya." (17) |
Masa Raya : Minggu Sengsara IV | ||
| ||
Nas Bacaan
| ||
Stola : Ungu Tua, Ikan (Ichtus) | ||
Tanggal :Minggu, 30 Maret | Mencari dan Menyelamatkan yang Hilang | |
| • • • | Lukas memaparkan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dunia, yang begitu mengasihi umat manusia, apapun keadaan mereka. Yesus Kristus adalah sosok yang menghormati mereka yang dihindari dunia dan bersahabat dengan mereka yang tidak memiliki sahabat. Ia menerima dan duduk bersama mereka yang dikucilkan. Tuhan Yesus diprotes karena Ia menerima dan mengajar orang-orang berdosa. Setelah mengajar, Ia duduk dan makan bersama-sama dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Hal ini menyebabkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut dan berkata, “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (Luk. 15:1-2). Menanggapi itu, Yesus menyampaikan dua perumpamaan agar mereka memahami bahwa Allah mencari yang hilang. Ia menceritakan perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk. 15:3-7) dan dirham yang hilang (Luk. 15:8-10). Siapa di antara mereka yang jikalau mempunyai seratus ekor domba dan kehilangan seekor di antaranya, yang tidak akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan di tempat yang aman dan pergi mencari yang hilang itu sampai ia manemukannya? Kalau mereka sudah menemukannya, tentu mereka akan sangat bersukacita. Perempuan mana yang mempunyai sepuluh dirham dan jika kehilangan satu di antaranya, tidak akan menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, tentu ia akan sangat bersukacita. Demikian juga ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat. Hakikat nilai hidup seseorang begitu berharga di hadapan Allah. Hal ini bukan karena Ia mengabaikan yang banyak dan peduli yang sedikit, melainkan karena setiap orang berharga di mata-Nya. Hal ini bukan pula dikarenakan orang itu punya banyak kelebihan, melainkan karena kasih-Nya yang begitu besar kepada mereka (Yoh. 3:16). Itulah sebabnya Ia datang mencari orang-orang yang terhilang. Hal inilah yang patut kita syukuri saat merayakan minggu sengsara. Yesus mengasihi kita, kita berharga karena itu Ia mau mencari bahkan menebus kita dan membawa pada pertobatan sejati.
|
Masa Raya : Minggu Sengsara V | ||
| ||
Nas Bacaan
| ||
Stola : Ungu Tua, Ikan (Ichtus) |


EmoticonEmoticon